Arsip Bulanan: September 2008

Mosquito’s Naughty

Malam ini di ruangan yang berukuran 2,5×5 meter ini tak seperti malam-malam yang biasanya. Tak terdengar lagi suara keyboard atau mouse yang sedang dipakai bekeraja. Desis suara AC yang terus tak jemu-jemu menghembuskan udara sejuk bertemperatur 16º membuat suasana terasa semakin dingin ketika malam-malam semakin beranjak larut.

Saat kupandangi dua buah meja kerja lengkap dengan peralatannya seperti komputer dan printer aku dibuat kaget oleh pandangan yang ada, “ah semakin lama aku pandangi mereka, nampak semakin muram saja”. Nampaknya mereka kelelahan seharian telah bekerja bersama tuannya, saat inilah waktu yang tepat buat mereka beristirahat.

Aku lihat ada 2 buku besar yang sepertinya habis dibaca dan tergeletak begitu saja diatas meja, satu buku berjudul Documenta Historia dan yang satunya Harga Sebuah Impian yang merupakan salah satu seri dari Chiken Soup terbitan Gramedia Pustaka Utama. Tepat disamping dua buku tadi aku lihat sebuah asbak penuh dengan puntung rokok, aku lihat gelas putih yang bertuliskan Harian Ibu, cerdas, lembut dan santai tersisa sedikit kopi yang terbuat dari campuran kopi murni, cofee mate dan sedikit gula. Bukti nyata, siang hari tadi ditempat ini berlangsung kerja dengan suasana yang keras. Dua buah kursi panjang satu berwarna merah dan yang satunya berwarna coklat muda, dua pesawat telpon nampak tegar dan setia diatas meja yang terbuat dari kayu pinus. Empat buah lukisan cat minyak yang menggambarkan suasana kota perancis tergantung apik di tembok sisi selatan, utara dan barat ruangan itu.

Jam tanganku saat ini menunjukan pukul 23.50 wib. “Ah sebentar lagi hari manjelang pagi pikirku”, tak terasa waktu berjalan sangat cepat aku sebentar lagi memasuki hari Sabtu ya Sabtu 23 Agustus 2008, tapi sampai detik ini aku belum bisa tidur, walau badan terasa sangat lelah, mataku tetap tidak mau berkompromi walau barang sebentar untuk istirahat. Aku duduk sebentar di kursi panjang warna merah, dan suatu hal aneh menyeruak di dalam otakku menggangguku setiap kali kesunyian datang. Ah, aku sudah berumur 24 tahun, apa yang sudah aku lakukan? Apa prestasi yang sudah aku capai? ruangan yang sunyi senyap ini terasa semakin menghimpitku dengan pertanyaan-pertanyaan itu yang membuat aku semakin terpojok lemah tak berdaya.

Saat aku tetap terjaga diatas kursi panjang warna merah ini, entah dari mana asal-muasalnya munculah serombongan nyamuk dalam jumlah yang tidak sedikit. Bak mesin perang mereka tebang dengan kecepatan penuh yang hendak melumatkan musuh-musuhnya. Mereka terus mendekat, ya mereka terus mendekat bisiku pelan dalam hati. Mereka mulai mendekati kedua kupingku, lantas mereka bernyanyi gembira. “Ah…. dasar nyamuk”, tak lama berselang mereka satu persatu mulai mendarat dengan sempurna di kedua tanganku yang memang tak tertutup pakaian, coba lihat dengan sigap mereka mencari posisi yang mereka anggap strategis, dan aman untuk menggigit dan menghisap darahku. Tidak seperti “burung besi” buatan manusia yang ahir-ahir ini dikabarkan sering mengalami kecelakaan, pendaratan mereka diatas kulitku taramat sempurna. Ya, mereka mendarat kemudian mereka berjalan, lalu berhenti dan mulai menggigit dan menghisap, dalam hal ini merekalah ahlinya.

Mungkin karena sering menghisap darah intelektual muda, mereka dengan cepat berubah jadi nyamuk-nyamuk cerdas. Lihat saja pendaratan mereka yang sangat mulus, mereka berjalan dengan lincah dan bergerak cepat mencari celah-celah yang memang tidak terlindungi itu. Sesekali mereka terbang, dan hinggap, hup… mereka semua berhasil menembus kulitku, mereka menghisap darahku dan mereka siap memompa racun kedalam kulitku. Ya mereka meninggalkan rasa gatal yang teramat sangat dan juga bentolan-bentolan merah di sekujur tubuhku.

“Ah…. mengapa ruangan ini dipenuhi beragam nyamuk..?, apakah karena ruangan ini berdekatan dengan kali Ciliwung yang memang sudah lama tidak bersih lagi itu ya..?”, Beragam bukti sesat muncul dan mengutkan argumenku, kali itu memang kali terjorok dari kali yang pernah aku lihat selama ini. Air yang jernih telah berubah berwarna kecoklatan, bau busuk seperti “comberan“ tak segan-segan menyebar kesegala penjuru tat kala angin berhembus. Ya, sungai itu tidak seperti dahulu kala dimana banyak penduduk Jakarta yang memanfaatkan untuk keperluan MCK, bahkan dahulu kala kali itu menjadi tempat favorit bagi pengusaha Loundry untuk membersihkan pakaian para kliennya.

Sungguh amat disayangkan saat ini sungai itu seperti bak sampah yang sangat besar. Lihat beraneka ragam sampah dengan mudah kita temui disana. Airnya yang tak seberapa banyak itu laksana kolam renang bagi samapah-sampah. Berbagai bibit penyakit mungkin dengan mudah kita temui disana termasuk juga jentik-jentik nyamuk. “Ah…., aku pikir bukan salah sungai itu, tapi salah manusianya saja yang memandang dan memposisikan sungai itu sehingga sungai itu berubah fungsinya. Tatkala kemarau ia menghadiahkan bebauan yang membuat lubang hidung menciut dan tatkala hujan ia membuat repot penduduk disebagian Jakarta dengan luapan airnya yang menggenangi areal pemukiman warga. “Ah…., sungguh malang nasib sungai itu”.

Ku liat lagi jam tanganku, waktu telah menunjukan pukul 00.35 Wib. Rasa lelah yang terus menyerangku belum mampu membuat badan ini sejenak beristirahat. Mataku terbelalak saat melihat jumlah nyamuk-nyamuk yang mengintaiku semakin banyak. Mereka sepertinya sedang menunggu saat-saat dimana aku lengah dan tak terjaga, karena saat itulah waktu mereka untuk berpesta telah dimulai. Sungguh kejam mereka, mereka menghisap darah, menggantinya dengan racun, mereka terbang, mereka bercinta, dan menyisakan bunyi bising di kedua daun telingaku. Nyamuk-nyamuk jaman sekarang memang tidak berkeprimanusuiaan, tingkah mereka semakin membuat merah telingaku saja.

Kuperhatikan dengan seksama nyamuk-nyamuk yang sedang berpesta itu, diam-diam aku mengincar nyamuk yang paling gemuk. Kupikir dia yang paling bersalah dalam hal ini. Dengan kedua tanganku aku mencoba menepuk keras-keras nyamuk itu, “Pruk’’ Ah…. nyamuk itu ternyata tidak kena, dia terbang sambil tertawa dan mengejeku “rasain kamu, tidak kena wek….”. Semakin jengkel rasanya melihat tingkah nyamuk-nyamuk itu.

Apakah revolusi yang sempet aku dengar memang benar-benar terjadi, sehingga lahirlah generasi-generasi nyamuk yang pintar dan adaptif terhadap situasi dan kondisi? Pikiran itu selalu membayangiku mengganggu peraduanku di setiap malam-malam.

Jakarta, 22 Agustus 2008

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan provinsi tertua kedua di Negara Republik Indonesia setelah Jawa Timur, yang dibentuk oleh pemerintah negara bagian Indonesia. DIY mempunyai status istimewa atau otonomi khusus. Adapun sejarah  munculnya keistimew

aan terhadap Yogyakarta ialah sebagai Berikut:

1. Kesultanan Yogyakarta dan  Kadipaten Paku Alaman, yang merupakan unsur penting dalam pembentukan DIY telah memiliki status istimewa sebagai “Kerajaan vasal/N

egara bagian/Dependent state” dalam pemerintahan penjajahan mulai dari VOC , Hindia Perancis (Republik Bataav Belanda-Perancis), India Timur/EIC (Kerajaan Inggris), Hindia Belanda (Kerajaan Nederland), dan terakhir Tentara Angkatan Darat XVI Jepang (Kekaisaran Jepang).

2. Oleh Belanda status tersebut disebut sebagai Zelfbestuurende Lanschappen dan oleh Jepang disebut     dengan Koti/Kooti. Status ini membawa konsekuensi hukum dan politik berupa kewenangan untuk mengatur dan mengurus wilayah [negaranya] sendiri di bawah pengawasan pemerintah penjajahan tentunya.

Status ini pula yang kemudian juga diakui dan diberi payung hukum oleh Bapak Pendiri Bangsa Indonesia Soekarno yang duduk dalam BPUPKI dan PPKI sebagai sebuah daerah bukan lagi sebagai sebuah negara

SEJARAH BERDIRINYA KOTA YOGYAKARTA

Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja tas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan.

Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755.

Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton.

Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan.

Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah menetap di Kraton yang baru. Peresmian mana terjadi Tanggal 7 Oktober 1756
Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan dibangunnya Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Hutan Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi tersebut nampak strategi menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menerima piagam pengangkatan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi DIY dari Presiden RI, selanjutnya pada tanggal 5 September 1945 beliau mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa daerah Kesultanan dan daerah Pakualaman merupakan Daerah Istimewa yang menjadi bagian dari Republik Indonesia menurut pasal 18 UUD 1945. Dan pada tanggal 30 Oktober 1945, beliau mengeluarkan amanat kedua yang menyatakan bahwa pelaksanaan Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta akan dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII bersama-sama Badan Pekerja Komite Nasional

Meskipun Kota Yogyakarta baik yang menjadi bagian dari Kesultanan maupun yang menjadi bagian dari Pakualaman telah dapat membentuk suatu DPR Kota dan Dewan Pemerintahan Kota yang dipimpin oleh kedua Bupati Kota Kasultanan dan Pakualaman, tetapi Kota Yogyakarta belum menjadi Kota Praja atau Kota Otonom, sebab kekuasaan otonomi yang meliputi berbagai bidang pemerintahan masih tetap berada di tangan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kota Yogyakarta yang meliputi daerah Kasultanan dan Pakualaman baru menjadi Kota Praja atau Kota Otonomi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1947, dalam pasal I menyatakan bahwa Kabupaten Kota Yogyakarta yang meliputi wilayah Kasultanan dan Pakualaman serta beberapa daerah dari Kabupaten Bantul yang sekarang menjadi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo ditetapkan sebagai daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Daerah tersebut dinamakan Haminte Kota Yogyakaarta.
Untuk melaksanakan otonomi tersebut Walikota pertama yang dijabat oleh Ir.Moh Enoh mengalami kesulitan karena wilayah tersebut masih merupakan bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan statusnya belum dilepas. Hal itu semakin nyata dengan adanya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, di mana Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Tingkat I dan Kotapraja Yogyakarta sebagai Tingkat II yang menjadi bagian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selanjutnya Walikota kedua dijabat oleh Mr.Soedarisman Poerwokusumo yang kedudukannya juga sebagai Badan Pemerintah Harian serta merangkap menjadi Pimpinan Legislatif yang pada waktu itu bernama DPR-GR dengan anggota 25 orang. DPRD Kota Yogyakarta baru dibentuk pada tanggal 5 Mei 1958 dengan anggota 20 orang sebagai hasil Pemilu 1955.
Dengan kembali ke UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 diganti dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, tugas Kepala Daerah dan DPRD dipisahkan dan dibentuk Wakil Kepala Daerah dan badan Pemerintah Harian serta sebutan Kota Praja diganti Kotamadya Yogyakarta.

Atas dasar Tap MPRS Nomor XXI/MPRS/1966 dikeluarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Berdasarkan Undang-undang tersebut, DIY merupakan Propinsi dan juga Daerah Tingkat I yang dipimpin oleh Kepala Daerah dengan sebutan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah lainnya, khususnya bagi beliau Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Sedangkan Kotamadya Yogyakarta merupakan daerah Tingkat II yang dipimpin oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dimana terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi kepala Daerah Tingkat II seperti yang lain.

Seiring dengan bergulirnya era reformasi, tuntutan untuk menyelenggarakan pemerintahan di daerah secara otonom semakin mengemuka, maka keluarlah Undang-undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur kewenangan Daerah menyelenggarakan otonomi daerah secara luas,nyata dan bertanggung jawab. Sesuai UU ini maka sebutan untuk Kotamadya Dati II Yogyakarta diubah menjadi Kota Yogyakarta sedangkan untuk pemerintahannya disebut dengan Pemerintahan Kota Yogyakarta dengan Walikota Yogyakarta sebagai Kepala Daerahnya.

LETAK GEOGRAFIS KOTA YOGYAKARTA

secara geografis, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di antara :
• • 7º 30‘ sampai dengan 8º15’ Lintang Selatan
• • 110º sampai d0º52’ Bujur Timur
dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
• • Sebelah Utara berbatasan dengan Kabuapten Magelang.
• • Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Wonogiri.
• • Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia.
• • Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Purworejo.