Lewati navigasi

Mosquito’s Naughty

Malam ini di ruangan yang berukuran 2,5×5 meter ini tak seperti malam-malam yang biasanya. Tak terdengar lagi suara keyboard atau mouse yang sedang dipakai bekeraja. Desis suara AC yang terus tak jemu-jemu menghembuskan udara sejuk bertemperatur 16º membuat suasana terasa semakin dingin ketika malam-malam semakin beranjak larut.

Saat kupandangi dua buah meja kerja lengkap dengan peralatannya seperti komputer dan printer aku dibuat kaget oleh pandangan yang ada, “ah semakin lama aku pandangi mereka, nampak semakin muram saja”. Nampaknya mereka kelelahan seharian telah bekerja bersama tuannya, saat inilah waktu yang tepat buat mereka beristirahat.

Aku lihat ada 2 buku besar yang sepertinya habis dibaca dan tergeletak begitu saja diatas meja, satu buku berjudul Documenta Historia dan yang satunya Harga Sebuah Impian yang merupakan salah satu seri dari Chiken Soup terbitan Gramedia Pustaka Utama. Tepat disamping dua buku tadi aku lihat sebuah asbak penuh dengan puntung rokok, aku lihat gelas putih yang bertuliskan Harian Ibu, cerdas, lembut dan santai tersisa sedikit kopi yang terbuat dari campuran kopi murni, cofee mate dan sedikit gula. Bukti nyata, siang hari tadi ditempat ini berlangsung kerja dengan suasana yang keras. Dua buah kursi panjang satu berwarna merah dan yang satunya berwarna coklat muda, dua pesawat telpon nampak tegar dan setia diatas meja yang terbuat dari kayu pinus. Empat buah lukisan cat minyak yang menggambarkan suasana kota perancis tergantung apik di tembok sisi selatan, utara dan barat ruangan itu.

Jam tanganku saat ini menunjukan pukul 23.50 wib. “Ah sebentar lagi hari manjelang pagi pikirku”, tak terasa waktu berjalan sangat cepat aku sebentar lagi memasuki hari Sabtu ya Sabtu 23 Agustus 2008, tapi sampai detik ini aku belum bisa tidur, walau badan terasa sangat lelah, mataku tetap tidak mau berkompromi walau barang sebentar untuk istirahat. Aku duduk sebentar di kursi panjang warna merah, dan suatu hal aneh menyeruak di dalam otakku menggangguku setiap kali kesunyian datang. Ah, aku sudah berumur 24 tahun, apa yang sudah aku lakukan? Apa prestasi yang sudah aku capai? ruangan yang sunyi senyap ini terasa semakin menghimpitku dengan pertanyaan-pertanyaan itu yang membuat aku semakin terpojok lemah tak berdaya.

Saat aku tetap terjaga diatas kursi panjang warna merah ini, entah dari mana asal-muasalnya munculah serombongan nyamuk dalam jumlah yang tidak sedikit. Bak mesin perang mereka tebang dengan kecepatan penuh yang hendak melumatkan musuh-musuhnya. Mereka terus mendekat, ya mereka terus mendekat bisiku pelan dalam hati. Mereka mulai mendekati kedua kupingku, lantas mereka bernyanyi gembira. “Ah…. dasar nyamuk”, tak lama berselang mereka satu persatu mulai mendarat dengan sempurna di kedua tanganku yang memang tak tertutup pakaian, coba lihat dengan sigap mereka mencari posisi yang mereka anggap strategis, dan aman untuk menggigit dan menghisap darahku. Tidak seperti “burung besi” buatan manusia yang ahir-ahir ini dikabarkan sering mengalami kecelakaan, pendaratan mereka diatas kulitku taramat sempurna. Ya, mereka mendarat kemudian mereka berjalan, lalu berhenti dan mulai menggigit dan menghisap, dalam hal ini merekalah ahlinya.

Mungkin karena sering menghisap darah intelektual muda, mereka dengan cepat berubah jadi nyamuk-nyamuk cerdas. Lihat saja pendaratan mereka yang sangat mulus, mereka berjalan dengan lincah dan bergerak cepat mencari celah-celah yang memang tidak terlindungi itu. Sesekali mereka terbang, dan hinggap, hup… mereka semua berhasil menembus kulitku, mereka menghisap darahku dan mereka siap memompa racun kedalam kulitku. Ya mereka meninggalkan rasa gatal yang teramat sangat dan juga bentolan-bentolan merah di sekujur tubuhku.

“Ah…. mengapa ruangan ini dipenuhi beragam nyamuk..?, apakah karena ruangan ini berdekatan dengan kali Ciliwung yang memang sudah lama tidak bersih lagi itu ya..?”, Beragam bukti sesat muncul dan mengutkan argumenku, kali itu memang kali terjorok dari kali yang pernah aku lihat selama ini. Air yang jernih telah berubah berwarna kecoklatan, bau busuk seperti “comberan“ tak segan-segan menyebar kesegala penjuru tat kala angin berhembus. Ya, sungai itu tidak seperti dahulu kala dimana banyak penduduk Jakarta yang memanfaatkan untuk keperluan MCK, bahkan dahulu kala kali itu menjadi tempat favorit bagi pengusaha Loundry untuk membersihkan pakaian para kliennya.

Sungguh amat disayangkan saat ini sungai itu seperti bak sampah yang sangat besar. Lihat beraneka ragam sampah dengan mudah kita temui disana. Airnya yang tak seberapa banyak itu laksana kolam renang bagi samapah-sampah. Berbagai bibit penyakit mungkin dengan mudah kita temui disana termasuk juga jentik-jentik nyamuk. “Ah…., aku pikir bukan salah sungai itu, tapi salah manusianya saja yang memandang dan memposisikan sungai itu sehingga sungai itu berubah fungsinya. Tatkala kemarau ia menghadiahkan bebauan yang membuat lubang hidung menciut dan tatkala hujan ia membuat repot penduduk disebagian Jakarta dengan luapan airnya yang menggenangi areal pemukiman warga. “Ah…., sungguh malang nasib sungai itu”.

Ku liat lagi jam tanganku, waktu telah menunjukan pukul 00.35 Wib. Rasa lelah yang terus menyerangku belum mampu membuat badan ini sejenak beristirahat. Mataku terbelalak saat melihat jumlah nyamuk-nyamuk yang mengintaiku semakin banyak. Mereka sepertinya sedang menunggu saat-saat dimana aku lengah dan tak terjaga, karena saat itulah waktu mereka untuk berpesta telah dimulai. Sungguh kejam mereka, mereka menghisap darah, menggantinya dengan racun, mereka terbang, mereka bercinta, dan menyisakan bunyi bising di kedua daun telingaku. Nyamuk-nyamuk jaman sekarang memang tidak berkeprimanusuiaan, tingkah mereka semakin membuat merah telingaku saja.

Kuperhatikan dengan seksama nyamuk-nyamuk yang sedang berpesta itu, diam-diam aku mengincar nyamuk yang paling gemuk. Kupikir dia yang paling bersalah dalam hal ini. Dengan kedua tanganku aku mencoba menepuk keras-keras nyamuk itu, “Pruk’’ Ah…. nyamuk itu ternyata tidak kena, dia terbang sambil tertawa dan mengejeku “rasain kamu, tidak kena wek….”. Semakin jengkel rasanya melihat tingkah nyamuk-nyamuk itu.

Apakah revolusi yang sempet aku dengar memang benar-benar terjadi, sehingga lahirlah generasi-generasi nyamuk yang pintar dan adaptif terhadap situasi dan kondisi? Pikiran itu selalu membayangiku mengganggu peraduanku di setiap malam-malam.

Jakarta, 22 Agustus 2008

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan provinsi tertua kedua di Negara Republik Indonesia setelah Jawa Timur, yang dibentuk oleh pemerintah negara bagian Indonesia. DIY mempunyai status istimewa atau otonomi khusus. Adapun sejarah  munculnya keistimew

aan terhadap Yogyakarta ialah sebagai Berikut:

1. Kesultanan Yogyakarta dan  Kadipaten Paku Alaman, yang merupakan unsur penting dalam pembentukan DIY telah memiliki status istimewa sebagai “Kerajaan vasal/N

egara bagian/Dependent state” dalam pemerintahan penjajahan mulai dari VOC , Hindia Perancis (Republik Bataav Belanda-Perancis), India Timur/EIC (Kerajaan Inggris), Hindia Belanda (Kerajaan Nederland), dan terakhir Tentara Angkatan Darat XVI Jepang (Kekaisaran Jepang).

2. Oleh Belanda status tersebut disebut sebagai Zelfbestuurende Lanschappen dan oleh Jepang disebut     dengan Koti/Kooti. Status ini membawa konsekuensi hukum dan politik berupa kewenangan untuk mengatur dan mengurus wilayah [negaranya] sendiri di bawah pengawasan pemerintah penjajahan tentunya.

Status ini pula yang kemudian juga diakui dan diberi payung hukum oleh Bapak Pendiri Bangsa Indonesia Soekarno yang duduk dalam BPUPKI dan PPKI sebagai sebuah daerah bukan lagi sebagai sebuah negara

SEJARAH BERDIRINYA KOTA YOGYAKARTA

Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja tas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan.

Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755.

Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton.

Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan.

Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah menetap di Kraton yang baru. Peresmian mana terjadi Tanggal 7 Oktober 1756
Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan dibangunnya Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Hutan Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi tersebut nampak strategi menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menerima piagam pengangkatan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi DIY dari Presiden RI, selanjutnya pada tanggal 5 September 1945 beliau mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa daerah Kesultanan dan daerah Pakualaman merupakan Daerah Istimewa yang menjadi bagian dari Republik Indonesia menurut pasal 18 UUD 1945. Dan pada tanggal 30 Oktober 1945, beliau mengeluarkan amanat kedua yang menyatakan bahwa pelaksanaan Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta akan dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII bersama-sama Badan Pekerja Komite Nasional

Meskipun Kota Yogyakarta baik yang menjadi bagian dari Kesultanan maupun yang menjadi bagian dari Pakualaman telah dapat membentuk suatu DPR Kota dan Dewan Pemerintahan Kota yang dipimpin oleh kedua Bupati Kota Kasultanan dan Pakualaman, tetapi Kota Yogyakarta belum menjadi Kota Praja atau Kota Otonom, sebab kekuasaan otonomi yang meliputi berbagai bidang pemerintahan masih tetap berada di tangan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kota Yogyakarta yang meliputi daerah Kasultanan dan Pakualaman baru menjadi Kota Praja atau Kota Otonomi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1947, dalam pasal I menyatakan bahwa Kabupaten Kota Yogyakarta yang meliputi wilayah Kasultanan dan Pakualaman serta beberapa daerah dari Kabupaten Bantul yang sekarang menjadi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo ditetapkan sebagai daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Daerah tersebut dinamakan Haminte Kota Yogyakaarta.
Untuk melaksanakan otonomi tersebut Walikota pertama yang dijabat oleh Ir.Moh Enoh mengalami kesulitan karena wilayah tersebut masih merupakan bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan statusnya belum dilepas. Hal itu semakin nyata dengan adanya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, di mana Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Tingkat I dan Kotapraja Yogyakarta sebagai Tingkat II yang menjadi bagian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selanjutnya Walikota kedua dijabat oleh Mr.Soedarisman Poerwokusumo yang kedudukannya juga sebagai Badan Pemerintah Harian serta merangkap menjadi Pimpinan Legislatif yang pada waktu itu bernama DPR-GR dengan anggota 25 orang. DPRD Kota Yogyakarta baru dibentuk pada tanggal 5 Mei 1958 dengan anggota 20 orang sebagai hasil Pemilu 1955.
Dengan kembali ke UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 diganti dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, tugas Kepala Daerah dan DPRD dipisahkan dan dibentuk Wakil Kepala Daerah dan badan Pemerintah Harian serta sebutan Kota Praja diganti Kotamadya Yogyakarta.

Atas dasar Tap MPRS Nomor XXI/MPRS/1966 dikeluarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Berdasarkan Undang-undang tersebut, DIY merupakan Propinsi dan juga Daerah Tingkat I yang dipimpin oleh Kepala Daerah dengan sebutan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah lainnya, khususnya bagi beliau Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Sedangkan Kotamadya Yogyakarta merupakan daerah Tingkat II yang dipimpin oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dimana terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi kepala Daerah Tingkat II seperti yang lain.

Seiring dengan bergulirnya era reformasi, tuntutan untuk menyelenggarakan pemerintahan di daerah secara otonom semakin mengemuka, maka keluarlah Undang-undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur kewenangan Daerah menyelenggarakan otonomi daerah secara luas,nyata dan bertanggung jawab. Sesuai UU ini maka sebutan untuk Kotamadya Dati II Yogyakarta diubah menjadi Kota Yogyakarta sedangkan untuk pemerintahannya disebut dengan Pemerintahan Kota Yogyakarta dengan Walikota Yogyakarta sebagai Kepala Daerahnya.

LETAK GEOGRAFIS KOTA YOGYAKARTA

secara geografis, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di antara :
• • 7º 30‘ sampai dengan 8º15’ Lintang Selatan
• • 110º sampai d0º52’ Bujur Timur
dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
• • Sebelah Utara berbatasan dengan Kabuapten Magelang.
• • Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Wonogiri.
• • Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia.
• • Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Purworejo.

Agenda Yogya Fashion Week 2008

Berikut ini adalah agenda Yogya Fashion Week 2008 yang berlangsung di Pagelaran Kraton yogyakarta mulai tanggal 27-31 Agustus 2008.

Rabu, 27 Agustus 2008

  • 09.00 – 12.00: Pembukaan, Public Figures Show, Tarian Kraton, Kesenian Kentongan dan Peragaan Batik Banyumas
  • 13.00 – 15.00: Band Performance
  • 15.30 – 18.00: Jogja Street Carnival
  • 18.30 – 21.30: Indonesian Fashion Designers Shows

Kamis, 28 Agustus 2008

  • 09.00 – 12.00: Jogja Fashion Week Talk (Seminar Budaya) bertempat di Sonobudoyo.
  • 14.00 – 17.30: Jogja Models Competition, Kesenian Tari Saman Gayo dari Aceh.
  • 18.30 – 21.30: Indonesian Fashion Designers Shows

Jumat, 29 Agustus 2008

  • 09.00 – 11.30: Make Up Compeition (Wajah Pesta Malam) 2008
  • 13.30 – 17.30: Traditional Art
  • 18.30 – 21.30: Indonesian Fashion Designers Shows

Sabtu, 30 Agustus 2008

  • 09.00 – 12.00: Peragaan Busana Tradisional dan Kraton
  • 13.00 – 14.30: Acoustic Band Performance
  • 14.30 – 17.30: Jogja Fashion Competition (Final) “Retro Jogja”
  • 18.30 – 21.30: Fashion Tendance 2009 APPMI Jogja, “An Unduring Culture”

Minggu, 31 Agustus 2008

  • 09.00 – 12.00: Urban Show and Jazz Sunday Morning
  • 13.30 – 16.00: India Culture Performance
  • 16.00 – 17.30: Penutupan Jogja Fashion Week 2008

Taman Nasional Gunung Merapi

Unit Pengelola

:

Balai KSDA Yogyakarta

Kepala Balai

:

Kuspriyadi Sulistyo

Alamat

:

Jl. Gedongkuning 172 A, Yogyakarta 55171; telp/fax 0274-373324

Email: bksdayogya@yahoo.com

SK / Legalitas Kawasan

:

Penunjukan dengan SK Menhut 134/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004

Luas

:

6.410 ha (1.283,99 ha di DIY dan 5.126,01 ha di Jateng)

Tujuan Pengelolaan

:

Perlindungan  sumber air, sungai dan penyangga sistem kehidupan  kabupaten/kota Sleman, Yogyakarta, Klaten, Boyolali, dan Magelang

Letak administrasi

:

· Kab Magelang, Boyolali dan Klaten Provinsi Jateng (3 kab di Jateng)

· Kab Sleman, Provinsi DIY (1 kab di DIY)

Letak Geografis

:

Topografi

:

Topografi pada masing-masing kabupaten adalah:

a. Kabupaten Klaten:

· Bagian barat dan utara wilayah Kab. Klaten berupa lereng Gunung Merapi yang berbatasan dengan kab. Sleman.

· Landai sampai berbukit dengan ketinggian 100 – 150 m dpl.

· Merupakan daerah penghasil tembakau eksport

b. Kabupaten Boyolali :

· Berada diantara Gunung Merapi yang masih aktif dan Gunung Merbabu yang sudah tidak aktif, dengan ketinggian 75 – 1.500 m dpl.

· Empat sungai melintas di wilayah ini (Serang, Cemoro, Pepe dan Gandul).  Disamping itu ada sumber-sumber air lain berupa mata air dan waduk.

c. Kabupaten Magelang:

· Tiga kecamatan terpilih merupakan bagian lereng Gunung Merapi yang ke arah Barat, yang terletak pada ketinggian sekitar 500 m dpl, makin kea rah puncak Gunung Merapi kelerengan lahan semakin curam.

d. Kabupaten Sleman:

· Mulai landai hingga lahan yang memiliki kelerengan sangat curam dengan ketinggian 100 – 1.500 m dpl.

· Dibagian paling utara merupakan lereng Gunung Merapi yang miring ke arah Selatan.  Di lereng Selatan Gunung Merapi terdapat dua bukit yaitu Bukit Turgo dan Bukit Plawangan yang merupakan bagian kawasan wisata Kaliurang. Di Bagian lereng puncak Merapi ii reliefnya curam sampai sangat curam.  Bagian selatan dari ketiga kecamatan terpilih masih berupa lahan persawahan dengan sistem teras yang cukup baik.  seangkan bagian tengah berupa lahan kering dan paling utara merupakan bagian dari lereng gunung Merapi yang berupa hutan.

Iklim

:

Curah Hujan

:

· Kab Magelang: 2.252 – 3.627 mm / th

· Kab Boyolali: 1.856 – 3.136 mm / th

· Kab Klaten: 902 – 2.490 mm / th

· Kab Sleman:  1.869,8 – 2.495 mm / th

Jenis Tanah

:

Jenis tanah yang dapat dijumpai pada 10 kecamatan terpilih dari empat Kabupaten adalah: regosol, andosol, alluvial dan litosol.

Ketinggian kawasan

:

Secara umum terletak pada ketinggian + 50 – 2500 m dpl

Sejarah kawasan

:

· Merupakan kawasan lindung sejak tahun 1931 untuk perlindungan  sumber air, sungai dan penyangga sistem kehidupan  kabupaten/kota Sleman, Yogyakarta, Klaten, Boyolali, dan Magelang

· Fungsi kawasan sebelum ditunjuk menjadi TNGM di wilayah DIY terdiri dari HL=1.041,38 ha; CA Plawangan Turgo = 146,16 ha; dan TWA Plawangan Turgo 96,45 ha

· Fungsi kawasan sebelum ditunjuk menjadi TNGM di wilayah Jateng terdiri dari: HL seluas 5.126 ha

Potensi alam

:

· Merupakan sumber mata air bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya

· Ekosistem dari kombinasi biosystem, geosystem dan sociosystem yang unik, menarik dan dinamis

- Biosystem, hutan tropis pegunungan yang terpengaruh aktivitas gunung berapi, dengan jenis endemik Castanopsis argentia, Vanda tricolor dan merupakan habitat elang jawa dan macan tutul

- Geosystem, komplek gunung berapi aktif dari tipe khas strato/andesit dari sesar transversal dan longitudinal pulau jawa

- Sociosystem, yang merupakan interaksi manusia dengan lingkungan alam berikut pandangan hidup dan budaya bernuansa vulkan

· Mempunyai fungsi laboratorium alam untuk pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, pendidikan, peningkatan kesadaran konservasi alam, dan mendukung kepentingan budidaya

· Obyek wisata alam (ecotourism) dan socioculture yang menjadi obyek pariwisata yang dapat memberikan kontribusi kepada kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah

· Peluang pengembangan jasa lingkungan dan wisata alam untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah

Keg Wisata Alam yg dpt dilakukan

:

Mendaki gunung, menikmati panorama yang indah, udara yang sejuk, dan keunikan budaya masyarakat sekitar

Permasalahan utama

:

Rekonstruksi batas kawasan hutan sebagai suatu unit pengelolaan hutan yang efektif dan efisien

Penataan kelembagaan pengelola hutan ke dalam suatu lembaga pengelola hutan berupa unit pengelola taman nasional (balai taman nasional), dengan didukung adanya suatu wadah untuk keterlibatan berbagai kepentingan multi stakeholder dalam pengelolaannya

Penataan sistem zonasi untuk mendukung efektivitas pengelolaan serta  kepentingan konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat

Restorasi dan rehabilitasi atas kerusakan ekosistem kawasan  hutan gn. Merapi agar dapat berfungsi secara optimal untuk mendu-kung sistem kehidupan masyarakat di sekitarnya

Penataan infrastruktur pengelolaan untuk pendayagunaan potensi dan kawasan taman nasional : pendidikan, penelitian, ekoturisme, pemanfaatan khusus/tradisional,  menunjang budidaya,  pengem-bangan sosial ekonomi, dll.

Pendanaan pengelolaan dan pengembangan taman nasional

Koordinasi dan integrasi pembangunan wilayah dengan konservasi taman nasional : pengembangan daerah penyangga, dll.

Lain-Lain

:

Jumlah dan Kepadatan Penduduk pada 10 kecamatan terpilih:

1.

Kec. Kemalang (Klaten)

·

Banyak penduduk = 34.146 jiwa

·

Kepadatan Penduduk per km2 = 772 jiwa

2.

Kec. Selo (Boyolali)

·

Banyak penduduk = 26.390 jiwa

·

Kepadatan Penduduk per km2 = 471 jiwa

3.

Kec. Cepogo (Boyolali)

·

Banyak penduduk = 51.252 jiwa

·

Kepadatan Penduduk per km2 = 967 jiwa

4.

Kec. Musuk (Boyolali)

·

Banyak penduduk = 59.364 jiwa

·

Kepadatan Penduduk per km2 = 913 jiwa

5.

Kec. Srumbung (Magelang)

·

Banyak penduduk = 42.128 jiwa

·

Kepadatan Penduduk per km2 = 792 jiwa

6.

Kec. Sawangan (Magelang)

·

Banyak penduduk = 51.142 jiwa

·

Kepadatan Penduduk per km2 = 707 jiwa

7.

Kec. Dukun (Magelang)

·

Banyak penduduk = 41.103 jiwa

·

Kepadatan Penduduk per km2 = 770 jiwa

8.

Kec. Cangkringan (Sleman)

·

Banyak penduduk = 26.723 jiwa

·

Kepadatan Penduduk per km2 = 557 jiwa

9.

Kec. Pakem (Sleman)

·

Banyak penduduk = 31.110 jiwa

·

Kepadatan Penduduk per km2 = 834 jiwa

10

Kec. Kemalang (Klaten)

·

Banyak penduduk = 32.936 jiwa

·

Kepadatan Penduduk per km2 = 764 jiwa


Hubungan sosial ekonomi penduduk dengan Merapi:

· Memanfaatkan hutan negara sebagai sumber rumput untuk pakan ternak dan kayu bakar (akasia dan tanaman yang sakit) sebagai bahan pembuatan arang yang dijual di wilayah mereka.

· Perilaku konservasi yang sudah tampak diantara masyarakat, dan dapat dijadikan pendukung pilar-pilar konservasi adalah:

a. Kesepakatan diantara masyarakat: bila ingin mengambil  / menebang tanaman, harus menanam dulu dari jenis yang sama minimal 5 pohon.

b. Adanya pendapat: bila hutan dihijaukan oleh masyarakat maka warga masyarakat tidak akan kelaparan; serta pendapat : bila hutan ditanami palawija (jagung, ketela dll) maka warga masyarakat sekitar kawasan akan mengalami kekurangan makan (tidak akan pernah merasa kenyang)

c. Adanya keyakinan hubungan spiritual dan supranatural antara Merapi, Kraton Yogya dan Laut Selatan yang didasari atas anggapan Merapi bukan ancaman tapi sebagai sumber kehidupan.

Catatan:

· Referensi : Laporan Akhir Sosialisasi dan Komunikasi Calon TN Merapi dan SK Menhut 134/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004

Kabupaten Sleman, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.

Berbagai perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta sebenarnya secara administratif terletak di wilayah kabupaten ini, diantaranya

1. Universitas Gadjah Mada

2. Universitas Negeri Yogyakarta

3. Universitas Islam Negeri (IAIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta

4. Universitas Islam Indonesia

5. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

6. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

7. Universitas Atmajaya Yogyakarta

8. STIE YKPN Yogyakarta .

Pusat pemerintahan di Kecamatan Sleman, yang berada di jalur utama antara YogyakartaSemarang. Dengan Pendapatan Asli Daerah Rp. 52.978.731.000,- (2005) Kabupaten Sleman merupakan Kabupaten Terkaya di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagian utara kabupaten ini merupakan pegunungan, dengan puncaknya Gunung Merapi di perbatasan dengan Jawa Tengah, salah satu gunung berapi aktif yang paling berbahaya di Pulau Jawa. Sedangkan di bagian selatan merupakan dataran rendah yang subur. Di antara sungai-sungai besar yang melintasi kabupaten ini adalah Kali Progo (membatasi kabupaten Sleman dengan Kabupaten Kulon Progo), Kali Code, dan Kali Tapus.

Motto: Sembada (Sehat, Elok, Makmur dan merata, Bersih dan berbudaya, Aman dan adil, Damai dan dinamis, Agamis)
Provinsi D.I. Yogyakarta
Ibu kota Sleman
Luas 574,82 km²
Penduduk
· Jumlah 910.007 (Kantor Kependudukan & Catatan Sipil, Kab. Sleman; 2006)
· Kepadatan 1.583 jiwa/km²
Pembagian administratif
· Kecamatan 17
· Desa/kelurahan 86
Dasar hukum UU No.15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tanggal 8 Agustus 1950
Hari jadi {{{hari jadi}}}
Bupati Drs. Ibnu Subiyanto Akt
Kode area telepon 0274
APBD {{{apbd}}}
DAU Rp. 485,396.80 (Juta Rupiah)
Suku bangsa {{{suku bangsa}}}
Bahasa {{{bahasa}}}
Agama {{{agama}}}
Flora resmi {{{flora}}}
Fauna resmi {{{fauna}}}
Zona waktu {{{zona waktu}}}
Bandar udara {{{bandar udara}}}

Situs web resmi: www.slemankab.go.id

VISI KOTA YOGYAKARTA

Terwujudnya Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan yang berkualitas, Pariwisata yang berbudaya, pertumbuhan dan pelayanan jasa yang prima, ramah lingkungan serta masyarakat madani yang dijiwai semangat Mangayu Hayuning Bawana

MISI KOTA YOGYAKARTA

  1. Menjadikan dan mewujudkan lembaga pendidikan formal, non formal dan sumber daya manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi serta kompetitif dalam rangka mengembangkan pendidikan yang berkualitas.
  2. Menjadikan dan mewujudkan pariwisata , seni dan budaya sebagai unggulan daerah dalam rangka mengembangkan kota sebagai kota pariwisata yang berbudaya.
  3. Menjadikan dan mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai motor penggerak pertumbuhan dan pelayanan jasa yang prima  untuk wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan .
  4. Menjadikan dan mewujudkan masyarakat yang menyadari arti pentingnya kelestarian lingkungan yang dijiwai semangat ikut memiliki/handarbeni.
  5. Menjadikan dan mewujudkan masyarakat demokrasi yang dijiwai oleh sikap kebangsaan Indonesia yang berketuhanan, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berkerakyatan dan berkeadilan sosial dengan semangat persatuan dan kesatuan

Yogyakarta Map

Yogyakarta Map

LETAK GEOGRAFIS KOTA YOGYAKARTA

secara geografis, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di antara :
• • 7º 30‘ sampai dengan 8º15’ Lintang Selatan
• • 110º sampai d0º52’ Bujur Timur
dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
• • Sebelah Utara berbatasan dengan Kabuapten Magelang.
• • Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Wonogiri.
• • Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia.
• • Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Purworejo.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.